Perihnya Stigma yang Diterima Korban Kekerasan Seksual

Ditulis oleh @Najyenka (Followers Centra Mitra Muda)

“Perihnya Stigma yang Diterima Korban Kekerasan Seksual”

Apa yang pertama kalian pikirkan ketika melihat atau mendengar kekerasan seksual terhadap perempuan? “Mungkin pakaian si cewek itu seksi!” “Pasti ceweknya genit!” “Udah biasa kali, nggak usah dibesar-besarin masalah kayak gini.” “Ah masak, mana buktinya.” “Dia kan bukan perempuan baik-baik, jadi wajar aja.”

Faktanya, sebagian besar korban adalah anak-anak di bawah umur 10 tahun. Mengapa? Karena mereka lemah sehingga lebih mudah ditakut-takuti dan relatif tidak berisiko bagi pelaku. Akibatnya, pelarian mereka ke pergaulan bebas, di sini lah terjadi kehamilan yang tidak diharapkan. Itu sangat membahayakan dari segi kesehatan, ekonomi, mental, dan sosial.

Masyarakat kebanyakan beranggapan kalau kekerasan seksual harus ada pemaksaan fisik dan dibuktikan secara medis. Itu kurang tepat. Kekerasan seksual adalah segala tindakan yang mengakibatkan kerugian, penderitaan fisik, seksual, maupun psikologis.

Ada juga korban yang berani speak up dan melaporkan kepada pihak yang berwenang. Jika bukti kurang, korban dituduh mencemarkan nama baik pelaku, lalu malah digugat balik. Hukum di negara kita memang masih lebih menguntungkan pelaku daripada korban. Proses persidangan cenderung memojokkan dan mempermalukan korban. Tak sedikit keluarga memilih jalan kekeluargaan dengan menikah untuk menghilangkan aib. Bukankah itu akan menambah masalah? Bagaimana kalau setelah menikah kekerasan malah akan sering terjadi?

Korban biasanya akan mendapatkan simpati yang berlebih sehingga ia tidak nyaman. Kekerasan seksual tidak memandang tempat, umur, dan status ekonomi. Sedangkan pelaku tidak mengenal tingkat pendidikan. Lebih mengejutkan lagi, status pelaku biasanya orang yang sudah tidak asing dengan korban: ayah, tetangga, guru, dan teman.

Bagaimana sih caranya agar dapat mencegah dan menangani kekerasan seksual?

  1. Dengan pemberian kemudahan pelaporan (deregulasi)
  2. Menghadirkan layanan terpadu untuk pemulihan dan mengurangi stigma terhadap korban
  3. Harus diadakan sex-education dan sosialisasi secara intens
  4. Pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya
  5. Kesadaran masyarakat agar lebih aware, peduli, dan tidak melakukan kekerasan seksual
  6. Menghukum pelaku dengan tegas agar ia jera