Sejarah Berdirinya PKBI

Lahirnya PKBI didorong oleh situasi masyarakat yang memprihatinkan, di antaranya masalah kependudukan dan tingginya angka kematian ibu. Isu keluarga berencana belum dianggap sebagai hal penting. Pada periode tersebut pemerintah belum menyadari manfaat keluarga berencana bagi peningkatan kualitas bangsa. Hal ini mendorong sekumpulan orang untuk membentuk wadah gerakan keluarga berencana di Indonesia.

Diawali dengan diskusi bersama Mrs. Dorothy Brush, anggota Field Service IPPF, disusul oleh kunjungan Dr. Abraham Stone, kepala Margareth Sanger Research Institute New York, maka Dr.Soeharto, ketika itu sebagai dokter pribadi Presiden Soekarno, mulai menjajagi kemungkinan-kemungkinan untuk mendirikan sebuah organisasi keluarga berencana. Akhirnya pada tanggal 23 Desember 1957 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) resmi berdiri.

Keluarga yang menjadi harapan PKBI adalah keluarga bertanggung jawab, yaitu keluarga yang menunaikan tanggung jawabnya dalam dimensi kelahiran, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan. Seiring berkembangnya zaman, permasalahan semakin kompleks. Melalui pendekatan yang sensitif gender dan pelayanan yang berpihak pada semua kelompok masyarakat, PKBI bergerak dengan semboyan “berjuang untuk pemenuhan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi”.

Pada tahun 1969 PKBI mencatat sejarah baru sebagai anggota penuh IPPF, sebuah lembaga federasi internasional beranggotakan 184 negara yang memperjuangkan pemenuhan hak dan kesehatan seksual reproduksi bagi masyarakat di seluruh dunia. PKBI kini berada di 26 Provinsi, mencakup 249 kabupaten/kota di Indonesia. Total Staf: 812 (109 Pusat, 703 Daerah dan Cabang). Relawan : 5.985 orang terdiri dari 950 relawan lokal dan 5.000 pendidik sebaya atau kader di masyarakat dan 35 orang pengurus nasional.

PKBI Pusat

PKBI DKI Jakarta

PKBI DKI Jakarta

PKBI DKI Jakarta merupakan pelaksana (eksekutif) untuk provinsi DKI Jakarta. Seiring dengan berdirinya PKBI, salah satu isu yang ditangani adalahi isu remaja. Jumlah remaja berkembang hingga 30% dari penduduk Indonesia. Berdasarkan kebutuhan dan fakta, permasalahan remaja kian kompleks. Tahun 70-an KB belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat luas. Situasi tahun 80-an menunjukkan belum banyak program yang menyasar pada remaja.

Pada tahun 80-an PKBI mulai merekrut relawan dan mengikuti lokakarya yang diselenggarakan BKKBN. Tahun 90-an terbentuklah  KBRJ (Kelompok Remaja  Bertanggung Jawab) sebagai cikal bakal youth center, namun secara layanan baru pada layanan konseling, pemberian informasi, dan diskusi-diskusi kelompok.

Tahun 1992 PKBI mendapatkan tawaran kerja sama dari Pathfinder Fund untuk program remaja. Kegiatannya meliputi pelayanan medis, konseling, outreach remaja,  dan lain-lain yang intinya ingin membuat remaja nyaman. Pada saat program berjalan disebut dengan Youth Center Centra Mitra Muda. Selanjutnya, berkembanglah klinik PKBI DKI Jakarta menjadi proCare Clinic serta hadirnya lembaga pendidikan dan latihan, Le Center, sebagai pusat learning and empowering.

Kiprah PKBI DKI Jakarta bagi masyarakat di antaranya sebagai berikut:

  • Merintis TK bagi keluarga kurang mampu (TK Bina Anaprasa) sejak tahun 1988 dan tahun 1998 telah mandiri.
  • Mempelopori program Harm Reduction di Lapas dan Komunitas, terutama program Needle Exchange Program (NEP) di komunitas dan HIV 101 di Lapas. Program HIV 101 harm reduction di Lapas menjadi program terbaik nasional dan tercatat sebagai anggota Kelompok Kerja Penanggulangan HIV dan AIDS di Lapas KPA Provinsi DKI Jakarta.
  • proCare Clinic menjadi tempat pelayanan rujukan medis bagi para kelompok dengan berbagai latar belakang, orientasi seksual, maupun status sosial. Klinik ini oleh KPA Nasional dianggap sebagai salah klinik terbaik khusus untuk IMS serta HIV dan AIDS di Indonesia. Layanan ramah remaja merupakan salah satu ikon yang dikembangkan oleh proCare Clinic.
  • Mempelopori program Children in Need Special Protection (CNSP). PKBI DKI Jakarta melalui program CNSP telah menandatangai nota kesepahaman untuk program serupa di Lapas Anak lain di Indonesia, dan Sahabat Andik (organisasi yang dikelola oleh sebagian besar alumni Lapas Anak) dan Jamaludin (kontributor utamanya) mendapatkan penghargaan dari Menteri Departemen Hukum dan Ham RI.
  • Centra Mitra Muda (CMM) sebagai youth center telah dijadikan sebagai salah satu rujukan bagi berbagai pihak di DKI Jakarta untuk program remaja.
  • Program penjangkauan bagi para supir truk dan orang di lingkungannya telah diapresiasi Sudinkes Jakarta Timur dan Sudin Perhubungan Jakarta Timur.  Program ini telah dijadikan sebagai percontohan di Jakarta  Timur.
  • Terlibat aktif dalam jaringan Forum LSM Peduli AIDS Se-JABODETABEK (Forum LMSPAJ). Wadah bagi lembaga-lembaga yang berjuang dalam isu penanggulangan HIV dan AIDS.
  • Le Center telah menjadi mitra bagi lembaga-lembaga pemerintah maupun non pemerintah dalam penyelenggaraan pelatihan. Dengan didukung tim yang solid dan profesional, memberikan nuansa yang berbeda dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan.

Legalitas PKBI DKI Jakarta adalah sebagai berikut:

  1. Disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia Nomor : C-87.HT.01.06.TH.2004. Tercatat dalam Tambahan Berita Negara RI tanggal 5/10 – 2004 No. 80
  2. Tercatat dalam Akta Notaris, nomor 2, tahun 1998. Notaris Ny. Handriyatni SH., Pejabat Pembuat Akta Tanah, Jakarta Selatan. Jl. Raya Ragunan Komplek Kejaksaan Agung RI, Blok C/8 Pasar Minggu – Jakarta Selatan
  3. Surat Keterangan Terdaftar pada Kantor Wilayah IV Jakarta, Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Matraman. Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Nomor : PEM-356/WPJ.04./KP.0103/2003.
  4. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : 1.317.131.9-001
  5. Surat Keterangan Domisi nomor 14/1.824.511/2011, Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman – Jakarta Timur.
  6. Nomor Rekening :
Nama Rekening : Giro Rupiah
Atas Nama : Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
Nomor Rekening  : 123.006.0000.199
Bank : Bank Mandiri, Cabang Wisma Alia, Jakarta