Apa itu Fasilitator?


Istilah fasilitator merupakan kata yang keren dan tren di kalangan komunitas. Mereka yang bergabung dalam sebuah komunitas atau isu tertentu, cenderung menyebut dirinya seorang fasilitator yang mendampingi isu atau kelompok. Secara umum, fasilitator dipandang sebagai orang yang ahli dalam memfasilitasi proses sebuah kelompok. Dikutip dari wikipedia, “Fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang memahami tujuan bersama mereka dan membantu mereka membuat rencana guna mencapai tujuan tersebut tanpa mengambil posisi tertentu dalam diskusi” (Sam Kaner and colleagues, 2007).

Dari sini timbul pertanyaan penulis, apa kriteria sehingga kita sudah disebut sebagai seorang fasilitator? Menurut Schwartz (1994) dalam Spangler (2003) tugas fasilitator adalah memandu proses dalam kelompok, membantu anggota kelompok memperbaiki cara mereka berkomunikasi, menyelidiki, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Hal ini tentunya menjadi sebuah refleksi apakah sesungguhnya hanya ini tugas seorang fasilitator? Lalu sudah sejauh mana fasilitator menjadikan dirinya sebagai fasilitator utuh.


Fasilitator yang Utuh


Kita dilahirkan sebagai seseorang yang tumbuh karena adanya pendidikan dan pengasuhan yang diberikan oleh guru dan orang tua kita sehingga kita menjadi seperti sekarang. Terkadang nilai pendidikan dan pengasuhan tersebut memengaruhi bagaimana kita memfasilitasi orang lain. Misalnya saja keinginan menggurui dan menilai orang lain masih terbawa dalam proses memfasilitasi. Pelatihan fasilitator yang hanya beberapa hari, tidak serta merta bisa mengubah 100 persen teknik atau kekhasan diri kita menjadi seorang fasilitator.

Peran fasilitator dalam suatu pembelajaran yaitu memandu proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran, bukan hanya memberikan informasi tentang isi atau materi pembelajaran saja. Hal ini menjadi refleksi ketika beberapa teman fasilitator terkadang nilai-nilai menggurui orang lain masih muncul. Sehingga, dalam proses pembelajaran seringkali yang dilakukan hanya memberikan informasi saja dan memaksakan nilai-nilai untuk diterima.

Ada hal terpenting yang fasilitator harus lihat lebih jauh, yakni dinamika ”perjalanan” kelompok. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang baik, fasilitator harus memastikan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial haruslah menyenangkan, aman, dan terlindungi. Hal ini harus teman-teman fasilitator sadari betul. Misalnya fasiltator yang memaksakan materi harus sampai kepada anggota dengan kondisi ruangan yang tidak memadai, padatnya anggota yang hadir membuat suasana ruangan menjadi pengap, dan sirkulasi udara tidak lancar. Hal ini juga tentunya menjadi perhatian bagi fasilitator karena tidak melihat lingkungan yang nyaman.

Di kondisi lain, fasilitator juga perlu melihat kesiapan mereka mengikuti sesi. Berkaitan dengan jam pelaksanaan saja contohnya. Ketika menjadi seorang fasilitator pemberdayaan masyarakat, penting untuk tahu kondisi dari anggota yang kita dampingi. Contohnya pada remaja luar sekolah, mereka mungkin terlihat sangat fleksibel waktu untuk berkumpul. Namun sebetulnya mereka mempunyai beragam aktivitas yang dilakukan seperti: mengurus rumah, bekerja di toko, menjadi tenaga bantuan di jalan, dan sebagainya. Dengan demikian, penting bagi fasilitator untuk menyesuikan diri mengikuti kesiapan mereka mengikuti sesi dan tidak memaksakan jam yang tersedia sesuai yang fasilitator bisa.

Hal lain berkaitan dengan metode. Fasilitator yang memiliki banyak ice breaking tidak serta merta disebut sebagai fasilitator yang utuh. Diskusi yang berjalan baik tentunya yang membuat anggota tidak cepat bosan dan antusias serta semuanya terlibat. Ketika hanya mengandalkan banyak ice breaking, tidak menjanjikan anggota mengerti utuh sesi yang berlangsung. Maka dari itu, penting bagi fasilitator melihat dinamika kelompok yang ada serta menggunakan berbagai metode yang menarik sehingga mereka tertarik terhadap apa yang dibahas.

Kepercayaan kepada anggota untuk bisa melalui proses sesi dengan baik juga merupakan salah satu hal yang harus kita tanamkan. Kita harus percaya bahwa semuanya pasti ada prosesnya masing-masing, ada masa inkubasinya masing-masing, dan tidak serta merta hanya melihat pada hasil. Hasil bukan satu satunya tolak ukur keberhasilan apakah fasilitator tersebut sudah baik, tetapi proses dan dinamika yang berkembang, itu yang perlu dilihat.


Refleksi Diri


Tentunya ini dibutuhkan waktu dan niat untuk terus meng-upgrade diri. Penulis menyadari bahwa pada awal penulis bergabung dalam sebuah komunitas, penulis menjadi fasilitator abal-abal atau gadungan. Penulis kemudian mengevaluasi diri dengan banyak belajar dari fasilitator handal yang bahkan bukan dari pendidik elit, tetapi hanya bermain di akar rumput mendampingi warga atau kader. Karena kesabaran dan keahliannya, mereka mampu mengubah pemikiran di sana dan tentunya perilaku warganya menjadi lebih baik.

Penulis juga sadar bahwa penulis harus mengikuti lagi dan lagi pelatihan yang berbeda agar bertambah pengetahuan dan keterampilan. Misalnya saja: pelatihan fasilitator komunitas CSE (Comprehensive Sexual Education) luar sekolah, pelatihan fasilitator pendamping anak di LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dan pelatihan journey4life.

Semua yang dilalui penulis tentu menjadi bekal bagi penulis untuk lebih baik lagi dalam memfasilitasi. Hal tersebut tentunya tidak akan pernah cukup sampai di sini. Masih harus di-upgrade lebih dalam dan mendetail.

Penulis meyakini bahwa menjadi fasilitator bukan hanya identitas semata ketika berada dalam sebuah perkumpulan atau komunitas. Tetapi itu adalah identitas yang melekat kemana pun kita pergi. Kita adalah fasilitator bagi diri kita sendiri untuk terus menjadi lebih baik dan mencapai tujuan-tujuan hidup kita.

Penulis : Annisa Inayah
Penyunting : Heni Mulyati