Catatan Perjalanan PINTAR (Pandu Inklusi Nusantara) – Bagian 1

Senin, 5 November 2018
Pesawat kami mendarat di Jogjakarta tengah hari setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan dari Halim Perdana Kusuma. Kami sangat bersemangat mengikuti acara PINTAR sebab akan bertemu dengan teman-teman, kader, rekan yang berasal dari berbagai daerah. Di bandara, tak sengaja kami satu pesawat dengan mitra-mitra PKBI DKI Jakarta.

Kami tiba di Hotel Ibis setelah dijemput panitia. Bersama dengan Zahra (Relawan CMM) kami beristirahat sejenak dan dilanjutkan dengan menikmati keindahan Kota Jogjakarta pada malam hari. Tak sabar rasanya menantikan keseruan acara esok hari.

Selasa, 6 November 2018
Satu per satu peserta mulai memadati ballroom Hotel Mercure. Hampir 200 orang berada dalam ruangan. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari The Asia Foundation, Inspirasi dari Kemendesa, dan Inspirasi dari Ombudsman.

Program Peduli hadir dalam upaya mengatasi permasalahan yang dialami oleh kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan atau terlewatkan dari program-program pembangunan dengan mengoptimalkan jalur sosial budaya sebagai jalan menuju inklusi. Terdapat kelompok masyarakat yang karena identitas agama, kepercayaan, pilihan politik, fisik, usia, dan tempat hidup mendapat stigma sosial sehingga akses mereka terbatas.

Terdapat sembilan lembaga yang bermitra dengan Program Peduli dan 69 lembaga lokal untuk bekerja di 75 kabupaten/kota di 21 provinsi. Dua tahun terakhir (sejak 2017), Peduli sudah memfasilitasi 19.245 orang mendapatkan identitas legal dan 11.022 orang menerima bantuan sosial. Hampir 20.000 orang terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Sebanyak 52 kabupaten/kota yang berkomitmen untuk menjadi kabupaten/kota inklusif.

Dari sini, saya menjadi tahu siapa yang dimaksud dengan pandu inklusi nusantara. Sepanjang 2017 hingga Juni 2018, Program Peduli berhasil mengembangkan 4.998 kader. Terdapat empat jenis kelompok yang disebut sebagai pandu inklusi nusantara, yaitu: perwakilan kelompok marjinal, perwakilan Aparat Sipil Pemerintah (ASN), perwakilan anggota masyarakat atau tokoh agama atau tokoh masyarakat, dan kelompok yang telah berubah menjadi inklusif serta menjadi bagian dari kerja-kerja perlindungan pemenuhan hak.

Setelah itu sesi perkenalan sesama peserta di ruangan. Kami diminta mencari lima teman baru yang belum pernah dikenal dan menceritakan tentang diri. Salah satunya adalah menceritakan tentang makna dari nama kita.

Kami dibagi menjadi 10 kelompok berdasarkan warna yang tertera pada nametag. Tiap kelas berisi 20-an peserta yang terdiri atas berbagai latar belakang. Satu per satu kader menceritakan tentang apa yang sudah dilakukan di wilayahnya masing-masing. Sesi ini sangat seru, kami menyimak beragam cerita dengan suka dukanya. Sehingga memberikan semangat baru bagi kami bahwa kami tidak sendirian.

Setelah sesi refleksi, seluruh peserta dikumpulkan kembali ke ballroom. Masing-masing fasilitator menyampaikan kesimpulan yang diperoleh dari tiap ruangan. Berbagai inspirasi disampaikan oleh fasilitator.

Dilanjutkan dengan sharing dari Kepala Desa Panggungharjo. Salah satu desa yang akan menjadi kunjungan peserta esok hari. Desa ini dinilai sukses dan dinobatkan sebagai desa terbaik tingkat nasional, desa percontohan ramah anak, dan Bumdes percontohan nasional (2014).

Keseruan hari pertama ditutup dengan latihan flashmob. Terdapat sebuah lagu yang harus kami hapal yaitu Pandu Inklusi Nusantara. Gerakan kami harus selaras dan kompak. Besok kami akan melakukan syuting dan rekaman atas tarian tersebut. Nantinya dapat digunakan sebagai media kampanye. Tunggu cerita kami berikutnya!

(bersambung……)