“Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Ungkapan ini nampaknya cukup familiar kita dengar. Ini merupakan judul buku kumpulan surat yang ditulis oleh R A Kartini, salah satu tokoh pelopor gerakan emansipasi perempuan di Indonesia. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht.

R A Kartini merupakan salah satu tokoh perempuan muda yang mendorong perempuan lainnya untuk berdaya. Meski gerakan emansipasi tersebut terjadi pada masa pendudukan Belanda, semangatnya tak surut hingga sekarang. Di era milenial, tidak hanya perempuan yang berdaya, namun juga seluruh kaum muda baik laki-laki maupun perempuan.

Laki-laki dan perempuan dapat tumbuh bersama dan memperjuangkan apa yang selama ini belum terpenuhi. Misalnya ketika perempuan berkiprah di bidang karir, ia sedang membebaskan dirinya melawan stigma dan penundukan peran perempuan. Selain itu, luasnya akses dan media yang dapat dijangkau oleh orang muda, dapat mendorong anak muda semakin berdaya. Saya ingat, ketika kuliah, ada seorang teman yang terpaksa tidak melanjutkan kuliah kemudian bekeja sebagai buruh dan menikah. Menjadi buruh bukan kemauannya. Kondisi saat itu memaksanya hingga teman pun menjadi buruh demi memenuhi kebutuhan. Di sekolah, ia termasuk murid yang pandai.

Ketika ia menikah, dalam hati saya bertanya-tanya, apakah menikah di usia muda akan bahagia? Apakah itu memang pilihan hatinya? Hingga akhirnya kami bertemu kembali dan ia memiliki seorang anak. Ia tampak malu dan menutup diri ketika kami asyik ngobrol sana sini. Setelah saya telusuri, dalam kehidupan rumah tangganya ia mengalami tekanan dari orangtua dan pasangan. Saya melihatnya sebagai seseorang yang belum sepenuhnya terbebaskan.

Cuplikan kisah di atas merupakan salah satu gambaran bahwa di era milenial masih terdapat kondisi perempuan belum berdaya seutuhnya. Bicara emansipasi, kita berbicara tentang peran serta. Peran serta ini tentunya juga membutuhkan dukungan dari laki-laki. Laki-laki dapat pula mengambil peran dalam pengasuhan dan pekerjaan domestik. Hal yang perlu dihindari ketika perempuan sudah bekerja di pabrik, di rumah juga dipaksa mengambil peran melayani, mengurus anak, dan rumah sepenuhnya. Ini yang dinamakan beban ganda.

Era milenial ini juga ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi. Teknologi dapat dikembangkan untuk mendorong semakin besarnya emansipasi perempuan. Sayangnya, masih terjadi kasus kekerasan yang memanfaatkan teknologi. Sisi lain, teknologi dapat menjadi ruang bagi perempuan untuk tunjukkan kiprahnya dan potensi yang dimiliki.

Pertanyaan berikutnya, sudahkah kita manfaatkan era milenial ini sebaik mungkin? Jangan sampai peluang yang ada tidak dimanfaakan yah! Apakah kita sudah di masa habis gelap terbitlah terang? Kembali ke diri kita masing-masing, sejauh mana menggunakan masa itu. Kita harus optimis. Penulis mengajak kita semua untuk meyakini bahwa “tidak ada kesulitan yang abadi selama kita yakin dan berusaha kalau itu akan berakhir”.


Penulis : Annisa Inayah
Penyunting : Heni Mulyati