Ada apa dengan tubuh gue?

Pernah gak sih kalian merasa insecure atau gak nyaman kalo lagi bercermin? Apa yang biasanya ada di benak kalian ketika bercermin? Gue pernah mengalami ketidaknyamanan itu. Saat gue kelas 6 SD di tahun 2000-an, gue sangat takut bercermin. Salah satunya, karena pada masa itu adalah pertama kalinya gue tau kalo mata gue minus dan harus pake kacamata. Insecure gue terhadap diri sendiri bertahan beberapa tahun. Saat itu hanya gue di kelas yang pakai kacamata. Kondisi itu memberikan kesan gue berbeda banget.

Hal lain yang bikin gue gak nyaman adalah julukan dari teman-teman yang panggil gue “si mata empat”. Kebayang gak sih, orang yang memakai alat bantu melihat tapi dibilang bermata empat. Ini mirip kayak orang tunanetra pakai tongkat, mungkin mereka akan bilang berkaki tiga. Kedengarannya memang lucu, tapi gue menemukan banyak insecure di dalamnya.

Tahun berganti tahun, gue mulai puber. Gue mulai memilih kacamata yang nggak terlalu terlihat tebal dan gue anggap bagus. Gue juga sempat nyoba berbagai cara agar mata gue normal kembali, misalnya dengan minum jus wortel. Pokoknya biar orang lain gak ngetawain atau biar gue gak merasa risih.

Seiring berjalannya waktu, gue semakin sadar beberapa hal. Selama ini gue terlalu menanggapi apa kata orang lain. Gue semakin stres dan bahkan nggak menghargai diri gue.

Semakin ke sini, tahun 2012-an tren orang berkacamata semakin berkembang. Gue masih melihat beberapa teman yang baru memakai kacamata minus merasa nggak PD. Sampai akhirnya gue berpikir bahwa terkadang seseorang memang punya insecure terhadap penampilan fisiknya. Saat SMA dan kuliah di jurusan Bimbingan Konseling, beberapa temen gue juga mengalami hal yang sama. Mereka merasa insecure sama bentuk tubuhnya yang gendut. Ada juga yang stres ketika jerawat muncul di wajah, badan terlalu pendek, atau kulit terlalu gelap.

Body Positivity

Pembahasan body positivity muncul di tengah gencarnya promosi produk-produk kecantikan di berbagai media. Produk tersebut menjual keunggulan yang dapat membuat seseorang lebih cantik dan lebih percaya diri. Bahkan beberapa artis turut serta mengkampanyekan body positivity ini. Mereka mengatakan bahwa mereka juga memiliki insecure terhadap fisik mereka sendiri. Hal ini membuka mata kita semua bahwa artis pun memiliki insecure terhadap dirinya.

Sebetulnya apa sih body positivity itu? Dilansir dari halodoc.com, body positivity adalah penerimaan setiap perubahan tubuh mulai dari bentuk, ukuran, hingga kemampuan tubuh seiring bertambahnya usia. Ringkasnya, kamu menghargai tubuh kamu yang berubah secara alamiah tanpa perlu melakukan perubahan apa pun untuk membuatnya terlihat lebih cantik dan sempurna. Kamu tetap merasa nyaman, bagaimanapun bentuk dan ukuran tubuh kamu.

Bagaimana cara menerapkan body positivity? Meski sudah mengenal apa itu body postivity, tentunya tidak mudah menerapkannya. Body positivity juga jangan disalahartikan bahwa akhirnya kita jadi tidak merawat diri ya gengs! Biar bagaimanapun kita harus mengerti kondisi kesehatan fisik kita dan merawatnya agar tubuh kita tetap sehat.

Berikut tips yang bisa kamu lakukan untuk menerapkan body positivity:

  1. Pahami mengenai kondisi tubuh kamu dan apa yang dibutuhkan tubuh kamu untuk tetap sehat.
  2. Stop mengkonsumsi dan membeli produk-produk yang menjanjikan kecantikan dan idealnya tubuh.
  3. Jangan pernah takut untuk berbeda, banggalah menjadi berbeda satu sama lain.
  4. Tetap merawat diri dengan standar menurut kesehatan bukan kecantikan.
  5. Kamu juga perlu melepaskan stres kamu dengan berolahraga, yoga, atau berefleksi.
  6. Ingat kesehatan mental kamu lebih penting dari apapun yang mereka katakan dan stop juga ya untuk mengomentari fisik orang lain.

So, itu aja sharing dari gue buat teman-teman. Yakinlah bahwa "Every piece of you is a burst of beautiful”.

Penulis : Annisa Inayah
Penyunting : Heni Mulyati