Apakah Saya Alami Kekerasan Psikis ?

 
“Kata mantan, aku gendut dan polos. Gak akan ada lagi yang mau sama aku kecuali dia. Aku juga pernah diancam ngga boleh putus dan dia bilang aku orang yang penakut. Kata dia aku dilahirkan buat terima takdir aja. Aku pernah dijadikan bahan lelucon waktu SD. Kata mereka aku kayak raksasa dan penampilanku aneh. Apa yang diucapkannya saat itu bagiku adalah benaran. Sampai pada akhirnya aku muak dan bertanya: apakah aku dilahirkan untuk diinjak-injak oleh orang lain? Dan di sinilah aku sadar bahwa aku mendapatkan kekerasan” (R, 17 tahun)
 

Gambaran kasus di atas merupakan salah satu contoh yang dapat terjadi pada remaja. Tidak hanya terjadi pada saat berpacaran, bisa juga dalam pertemanan. Dari cerita di atas kita melihat bahwa korban mendapatkan kekerasan dalam bentuk kata-kata yang membuatnya tertekan dan mengancam. Dampaknya, korban merasa rendah diri dan putus asa serta memberikan label dirinya tak berdaya.

Kasus di atas termasuk dalam bentuk kekerasan psikis (psikologis atau emosional). Kita simak lebih lanjut apa itu kekerasan psikis yuk! Tapi sebelumnya, kamu juga perlu tahu apa itu kekerasan secara umum.

Apa itu kekerasan?

Kekerasan memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda. Kekerasan dibagi menjadi empat jenis, yaitu kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran. Dampak kekerasan ada yang dapat terlihat dan tidak terlihat secara langsung. Kekerasan psikis termasuk bentuk dalam kekerasan yang dampaknya tidak terlihat.

Kekerasan dapat terjadi di mana saja, termasuk dalam dunia pendidikan. Data menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2019 terjadi kekerasan di dunia pendidikan sebanyak 37 kasus. Kekerasan tertinggi terjadi pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dengan 25 kasus, jenjang SMP 5 kasus, jenjang SMA 6 kasus, dan terendah pada perguruan tinggi 1 kasus kekerasan.

Berdasarkan jenis kasus yang dilaporkan, kekerasan psikis 12 kasus, kekerasan kebijakan 8 kasus, kekerasan pengeroyokan 3 kasus, dan kekerasan seksual 3 kasus. Kekerasan psikis merupakan kekerasan yang sering terjadi namun sulit terlihat dan sedikit orang yang menyadarinya.

Kekerasan Psikis

Kekerasan psikis merupakan sebuah perilaku dan tindakan yang di dalamnya menyiksa secara mental dan berpengaruh besar pada kehidupan si korban, khususnya emosional dan sosial. Kurangnya lingkungan yang mendukung dan seseorang yang mendukung berdampak pada sulitnya korban untuk pulih.

Bentuk kekerasan psikis dapat berupa verbal (ucapan) atau perilaku seperti permusuhan atau penolakan perawatan, merusak terhadap barang atau hewan peliharaan, memutus komunikasi, meremehkan, merendahkan, mengkambinghitamkan, mengancam, menakuti-nakuti, mendiskriminasi, perkataan yang menyudutkan atau menyalahkan, mengejek, mengkritik yang berlebihan, dan memberi nama (labelling) yang tidak menyenangkan.


Kenapa bisa terjadi kekerasan psikis?

  1. Faktor Individu, antara lain tempramen, kepribadian, perilaku yang dipelajari, sikap, dan pengetahuan mengenai kekerasan dalam keluarga.
  2. Faktor Keluarga, adanya pola interaksi dalam keluarga (antara ayah-anak, suami-isteri, antara saudara kandung), sikap dan nilai mengenai hak anak, orangtua, dan pasangan, kemampuan untuk mengatasi stress, sumber penghasilan yang ada atau tingkat ekonomi keluarga, kondisi hidup.
  3. Faktor Komunitas, seperti tingkat dan jenis dukungan yang tersedia, kesempatan belajar yang tersedia, sikap mengenai peran dan tanggung jawab di komunitas.
  4. Faktor Masyarakat atau Budaya, sikap mengenai hak, peran, dan tanggung jawab keluarga, sikap mengenai penggunaan kekuatan untuk mengatasi masalah, sikap mengenai jumlah dan jenis kekerasan yang diperbolehkan.

Pada remaja yang mengalami kekerasan psikis, umumnya pelaku adalah teman satu sekolah, satu kelas, satu komunitas, atau pacar. Sementara itu, masa remaja adalah masa untuk bersosialisasi dan membina pertemanan. Jika kekerasan psikis tersebut dirasa semakin menganggu, bantuan profesional dibutuhkan.


Apa dampaknya?

  • Harga diri rendah. Seseorang yang mempunyai harga diri rendah cenderung berpikiran negatif kepada diri sendiri maupun orang lain.
  • Menarik diri. Remaja yang mengalami kekerasan psikis cenderung menarik diri dari lingkungannya karena tidak adanya kepercayaan diri untuk bersosialisasi.
  • Tingkat kepercayaan diri yang menurun. Remaja yang mendapat olok-olok atau ancaman dari teman-temannya rentan mengalami penurunan rasa percaya diri.
  • Tidak bisa mengatur emosi. Remaja yang mengalai kekerasan psikis cenderung memiliki emosi yang meluap dan susah untuk dikendalikan.
  • Pengaruhi kesejahterann psikologis secara permanen dan dapat menyebabkan kerusakan emosi seperti mimpi buruk berulang-ulang, kecemasan, rasa takut dan agresi tingkat tinggi, perasaan malu dan bersalah, dan fobia mendadak.
  • Beberapa kasus kekerasan dapat menimbulkan gangguan kejiwaan seperti depresi, kecemasan berlebihan, atau gangguan disosiatif, dan juga bertambahnya risiko bunuh diri.

Apa yang bisa kita lakukan?

Ada beberapa tips untuk mencegah terjadinya kekerasan psikis:

  1. Berusaha menghargai diri sendiri
  2. Berfikir positif pada diri sendiri maupun orang lain
  3. Tidak memperlihatkan kekerasan di depan orang lain
  4. Memberikan nilai-nilai kemanusiaan
  5. Memberikan pembelajaran tentang cara pemberian dukungan psikologi selama dalam pengasuhan agar memiliki kemampuan kelekatan yang aman.
  6. Pembelajaran tentang pengaturan emosi (manajemen emosi)
  7. Mengajarkan cara mengalihkan emosi yang negatif ke aktivitas positif.
Kalau kamu sudah merasa menjadi korban dan sulit mengatasinya sendiri, jangan malu atau sungkan untuk cerita ke orang lain. Atau kamu bisa minta bantuan kepada konselor atau psikolog terdekat.

Yuk mulai peduli sama diri sendiri!

Sumber:
Anggadewi, B. E. (2007). Studi Kasus Tentang Dampak Psikologis Anak Korban Kekerasan Dalam Keluarga.
Kurniasari, A. (2019). Dampak Kekerasan Pada Kepribadian Anak. Kesejahteraan Sosial.